Analisis Semiotik Puisi

Ketika Udara Bising

Ketika udara bising oleh basa-basi nyanyian kemerde-
kaan,
bendera-bendera dikibarkan asal rame,
dan para birokrat berpidato tanpa didengarkan orang,
di samping gudang pasar,
di tepi got pembuangan pabrik,
seorang anak kecil berbaring,
dibius influenza,
memeluk seratus perak kertas kumal,
dan ia bertanya :
“Apaan sih itu merdeka?”

Ya, apakah artinya sebuah kata yang ditulis di atas pasir?
Apakah artinya undang-undang yang dicetak di atas air?

Derap barisan langkah-langkah terdengar.
Barisan langkah-langkah siapa?
Tak ada apa-apa.

Kesepian tanpa keheningan.
Kebisuan tanpa angin.

Kemacetan yang kukuh
dipuja seperti berhala.

Ketika buruh-buruh wanita atri uang gaji,
hari senja dan mandor-mandor menaksir tetek mereka.
Ketika seorang guru membaca catatan hutang-hutang-
nya,
matahari condong dan isterinya menyodorkan rekening
listrik.
Seorang pencopet yang tagannya patah digebuk polisi,
tergeletak di sel dan bertanya :
“Apakah gunanya kemerdekaan?”

Ya, apakah artinya upacara untuk kata-kata kosong?
Di manakah ujung dari muslihat-muslihat yang disadari?
Aku mendengar deru derap langkah-langkah berjalan.
Langkah-langkah siapa?
Dari mana datangnya?

Rumput melindungi kuman-kuman t.b.c. para buruh
percetakan,
yang tumpah bersama ludah yang mereka semburkan,
ketika mereka membaca koran-koran
yang penuh kebohongan dan penjilatan.

Apabila buah pikiran telah dibentur dengan sangkur.
Apabila dalam komunikasi hanya boleh satu pihak yang
bicara.
Seandainya kekuasaan hanya menciptakan tahta dan
penjara.
Seandainya pilihan untuk keselamatan hanyalah menjadi
burung beo atau penjahat resmi,
sudah lumrah apabila pagi ini
seorang gadis yang berwajah penasaran bertanya kepada
saya :
“Apakah Mas Willy percaya kepada kemerdekaan?”

Apakah artinya janji yang ditulis di pasir?
Apakah artinya pegangan yang hanyut di air?
Apakah artinya tata warna dari naluri rendah kekuasaan?
Apakah artinya kebudayaan plastik dan imitasi ini?
Aku mendengar deru derap langkah-langkah kaki.
Kemudian aku bertanya :
Di dalam kemelut kentut jaman ini,
deru derap barisan siapakah itu?
Deru derap barisan penindasan?
Ataukah deru derap barisan pembebasan?

Rendra

Semiotik (Tanda)
Dari puisi yang berjudul Ketika Udara Bising karya Rendra di atas, bisa ditemukan beberapa tanda di antaranya :
1. Basa-basi
2. Bendera-bendera
3. Nyanyian kemerdekaan
4. Keranjang bekas tempat bawang
5. Dibius influenza
6. Memeluk seratus perak
7. Kertas kumal
8. Kuman-kuman t.b.c.
9. Tumpah bersama ludah
10. Dibentur dengan sangkur
11. Tahta dan penjara
12. Burung beo
13. Penjahat resmi
14. Berwajah penasaran
15. Tatarendah
16. Naluri rendah kekuasaan
17. Kebudayaan plastik dan imitasi
18. Deru derap langkah
19. Kemelut kentut
20. Barisan penindasan
21. Barisan pembebasan

Analisis Semiotik (Tanda-Tanda)
1. Frasa “basa-basi” menandakan suatu keadaan yang tidak langsung mengarah pada inti atau objek. Bisa juga dikatakan berbelit-belit.
2. “bendera-bendera” menandakan sebuah simbol, lambang identitas.
3. Frasa “ketika udara bising” menandakan suatu keadaan yang ramai atau hiruk pikuk.
4. “nyanyian kemerdekaan” menandakan suatu ungkapan dengan riang. Kemerdekaan berarti pembebasan, berhak untuk bebas. Nyanyian kemerdekaan juga bisa menandakan ekspresi manusia untuk mengungkapkan kebahagiaan akan kebebasan yang dimilikinya.
5. “keranjang bekas tempat bawang” menandakan suatu tempat yang sudah terpakai lebih dahulu, kemudian difungsikan lagi. Namun, tempat tersebut terkesan memiliki kenangan yang memilukan dilihat dari kata “bawang”. Bawang yang berarti mengandung panas, membuat mata perih dan aroma yang menyengat tajam menusuk hidung. Dari deretan tanda tersebut maka disimpulkan bahwa keseluruhan tanda mengartikan sebagai sebuah bekas tempat yang pernah dipakai tempat pesakitan.
6. “dibius influenza” menandakan penyebaran secara sengaja sebuah virus, penyakit atau wabah yang meresahkan.
7. “memeluk seratus perak” menandakan betapa terbatasnya materi, sehingga ‘seratus perak’ yang berarti nominal uang yang sangat kecil menjadi sangat berarti.
8. “kertas kumal” menandakan sebuah kertas yang dijadikan sebagai bahan dan alat, alat apa saja, termasuk komposisi pencetakan rupiah. Sedangkan kata “kumal” berarti kotor, lusuh, lecek.
9. “kuman-kuman t.b.c.” menandakan sebuah penyakit yang sering menggerogoti nyawa manusia Indonesia kebanyakan, apalagi dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
10. “tumpah bersama ludah” menandakan kondisi yang sangat hina. “tumpah” berarti jatuh, diguyurkan entah dengan kesengajaan atau tidak, sedangkan “ludah” adalah konotasi dari sebuah kenistaan.
11. “dibentur dengan sangkur” menandakan keadaan yang bersenggolan dengan suatu benda yang keras, padat. Kata ini juga menandakan sebuah rasa sakit, gejolak fisik yang dirasakan ketika sedang mengalami ketraumaan.
12. “tahta dan penjara” menandakan kesenjangan yang jauh lebih paradoksal. Tahta yang berarti kekuasaan, entah secara kuasa, materi, intelektualitas dan lain sebagainya. Sedangkan “penjara” berarti tempat dikurungnya banyak pelaku tindak kejahatan, tempat menerima hukuman bagi mereka yang dinyataka bersalah dikelilingi dengan kerangkeng besi dan pengap.
13. “burung beo” menandakan kecerdikan manusia untuk berbicara.
14. “penjahat resmi” menandakan banyaknya oknum-oknum yang saat ini semakin dilindungi meskipun berperkara hanya karena status sosial yang tinggi. Penjahat seperti ini biasanya penjahat yang berkantor.
15. “berwajah penasaran” menandakan suatu raut wajah yang menyimpan banyak tanya akibat banyaknya hal yang ingin ia ketahui namun tak pernah terjawab.
16. “tata rendah” menandakan suatu penataan pada tingkatan paling bawah.
17. “naluri rendah kekuasaan” menandakan sebuah jiwa pemerintahan yang hanya memiliki sedikit kewibawaan, kesadaran dan pengabdian yang sangan minimal.
18. “kebudayaan plastik dan imitasi” menandakan suatu produk bermasyarakat yang merupakan akibat dari suatu kelatahan sehingga tidak mengembangkan kebudayaan sendiri, melainkan mencontoh kebudayaan lain yang bisa merusak identitas kebudayaan sendiri. kebudayaan ini adalh kebudayaan tiruan.
19. “deru derap langkah” menandakan suaru gemuruh langkah-langkah kaki yang sigap dan bergerombol.
20. “kemelut kentut” menandakan ruwetnya keadaan sehingga sulit sekali diurai atau dicarikan solusinya.
21. “barisan penindasan” menandakan suatu kelompok yang secara sengaja melakukan penindasan, kekerasan ataupun pelecahan dari segi verbal ataupun fisik. Ketidakadilan tersebut dilakukan secara serentak.
22. “barisan pembebasan” menandakan suatu keadaan yang berupaya untuk memberikan janji kebahagiaan, kebebasan dan keadilan.

Dari analisis tanda-tanda tersebut maka bisa ditemukan keserasian makna antara makna semiotik yang dijabarkan di atas dengan makna keseluruhan puisi di setiap baris dan bait. Analisis keseluruhan seperti di bawah ini :
Ketika udara bising oleh basa-basi nyanyian kemerde-
kaan,
bendera-bendera dikibarkan asal rame,
dan para birokrat berpidato tanpa didengarkan orang,
di samping gudang pasar,
di tepi got pembuangan pabrik,
seorang anak kecil berbaring,
dibius influenza,
memeluk seratus perak kertas kumal,
dan ia bertanya :
“Apaan sih itu merdeka?”
Pemakanaan frasa “basa-basi” dan “nyanyian kemerdekaan” yang bermakna menandakan suatu keadaan yang tidak langsung mengarah pada inti atau objek serta menandakan suatu ungkapan dengan riang. Kemerdekaan berarti pembebasan, berhak untuk bebas. Nyanyian kemerdekaan juga bisa menandakan ekspresi manusia untuk mengungkapkan kebahagiaan akan kebebasan yang dimilikinya.

Baris pertama secara keseluruhan mengartikan suatu keadaan yang snagat genting, bising, dan penuh dengan ketidakpastian dan kebasa-basian yang tidak mengarah langsung kepada inti dari kemerdekaan itu sendiri yang berarti bebas.

Pemaknaan kata “bendera” yang berarti simbol, lambang dan identitas sesuai dengan baris kedua secara keseluruhan yang bermakna “lambang” yang di”ada”kan saja, hanya sebagai tanda formal bahwa “merdeka” itu “ada” tanpa realisasi yang nyata, sehingga hanya dibuat untuk meramaikan saja tanpa penghayatan secara penuh.

Begitu juga dengan frasa “di dalam keranjang bekas tempat bawang,” memiliki makna yang menunjuk pada suatu bekas tempat yang digunakan untuk menindas, menyakiti dan menjayaka ketidakadilan. Kata “seorang anak kecil berbaring” menandakan keadaan rakyat kecil yang miskin, serba kekurangan dan membutuhkan banyak bantuan dan perhatian yang lebih. Sedangkan kata “dibius influenza” melengkapi keadaan anak kecil tersebut yang memang sudah lemah menjadi sangat lemah. Seperti itulah sekiranya gambaran keadaan rakyat yang ingin dilukiskan oleh penyair. Keadaan tersebut semakin kompleks dengan hadirnya klausa “memeluk seratus perak kertas kumal” yang menggambarkan keterbatasan yang sangat rendah.

Pada bait ke delapan terdapat banyak simbol yang ditemukan. Seperti kata “kuman-kuman t.b.c. dan “tumpah bersama ludah”. Frasa tersebut memiliki makna yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan oleh keseluruhan bait delapan. Sebab bait delapan ingin menggambarkan keadaan “para buruh” yang merupakan simbol dari rakyat kecil yang menjadi buruh, pekerja kasar, yang terserang berbagai macam penyakit-penyakit akibat terhimpitnya ekonomi yang tak jarang juga menyebabkan kematian. Frasa “tumpah bersama ludah” juga menggambarkan keadaan rakyat yang memang seolah-olah benar-benar hina, sehingga sulit sekali membedakan kemuliaan, harkat dan martatab dengan upaya mengais untuk mempertahankan hidup.

Pada bait ke sembilan ditemukan simbol-simbol di antaranya “dibentur dengan sangkur”, “tahta dan penjara”, burung beo”, “penjahat resmi”, dan “berwajah penasaran”. Kesemua simbol tersebut memiliki makna yang sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh penyair dalam bait sembilan yang bermakna keseluruhan sebagai keadaan yang pasrah, terjepit dan tidak bisa berbuat apa-apa. untuk bisa mengamati arti bait tersebut, bisa dibaca ulang puisi Ketika Udara Bising bait ke sembilan di bawah ini.

Apabila buah pikiran telah dibentur dengan sangkur.
Apabila dalam komunikasi hanya boleh satu pihak yang
bicara.
Seandainya kekuasaan hanya menciptakan tahta dan
penjara.
Seandainya pilihan untuk keselamatan hanyalah menjadi
burung beo atau penjahat resmi,
sudah lumrah apabila pagi ini
seorang gadis yang berwajah penasaran bertanya kepada
saya :
“Apakah Mas Willy percaya kepada kemerdekaan?”

Dari puisi tersebut sudah bisa kita merasakan bahwa sebuah kepasrahan akan keterbatasan untuk menyampaikan pendapat. Setiap ide untuk bisa diterima harus bisa dibayar dengan mahal, terlebih sebuah ide yang kemungkinan akan mengancam pihak lai, meskipun ide tersebut tergolong baik. Kata “tahta dan penjara” bersifat paradoksal, saling berlawanan arti. Kekuasaan hanyalah menciptakan garis baru yang lebih jelas terlihat antara pemilik kekuasaan dan bawahan.

Bait ke sepuluh dan ke sebelas banyak ditemukan simbol di antaranya “berwajah penasaran”, “tata rendah”, “naluri rendah kekuasaan”, “kebudayaan plastik dan imitasi”, “ deru derap langkah”, “kemelut kentut”, “barisan penindasan”, dan “barisan pembebasan”.

Makna keseluruhan dari bait tersebut adalah sebuah tanda tanya besar yang hingga di otak rakyat tentag makna dari sebuah kemerdekaan yang menjanjikan kebebasan. Kemerdekaan yang seharusnya menjanjikan kemakmuran, kebebasan dan kemerdekaan, ternyata hanya menunjukkan sebuah keadaan yang semakin runyam dan palsu semata.

About these ads

2 thoughts on “Analisis Semiotik Puisi

jangan lupa komentar ya.. :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s